Perjalanan Panjang Film Indonesia Sejak Zaman Dulu

Melihat adanya dunia perfilman sejak zaman dulu memang memiliki sejarah yang panjang tentunya. Berbagai film yang ada juga sudah pernah diproduksi dengan sebaik mungkin. Taip adanya Weekend atau Akhir Pekan pasti ada selalu film Indonesia yang dirilis dengan sangat bagus dari setiap genre yang ada. Untuk generasi saat ini termasuk yang paling beruntung, karena semuanya tidak akan sempat mengalami dimana masa-masa mati suri dari perfilman Indonesia. Terhitung sejak tahun 1993 sampai dengan tahun 2002 film Indonesia yang berkualitas ini bisa kalian hitung dengan menggunakan jari. 

Untuk saja, dalam hal ini masih ada sineas-sineas yang sudah optimis serta berhasil dalam membuat Film Indonesia dan bisa untuk bangkit kembali di awal-awal tahun 2000 sampai dengan sekarang ini. Kira-kira kalian tahu tidak ? apa saja film yang pernah menorehkan sejarah terbaik di Indonesia ? dan sekiranya apa saja sih judul yang sudah membuat dunia perfilman di Indonesia menjadi bangkit lagi dan membuat kembalinya ajang terbesar yakni FFI ? 

Bukan Loetoeng Kasaroeng Inilah Karya Terbaik Usmar Ismail

Kalian semua pasti mengenal judul film “Loetoeng Kasaroeng” yang sangat terkenal pada era 1926, dimana film ini merupakan film pertama Indonesia yang disutradarai oleh Belanda yaitu G. Kruker dan L. Heuveldorp. Tapi sayangnya , karena film ini disutradarai oleh orang Belanda film “Loetoeng Kasaroeng” tidak tercatat sebagai film pertama Indonesia,  melainkan film yang berjudul “ Darah dan Doa” menjadi film yang tercatat menjadi film pertama Indonesia . Film ini disutradarai oleh orang Indonesia dan di produksi oleh perusahaan film Indonesia. Oleh karena itu film “Darah dan Doa” menjadi Film pertama Indonesia. Penggarapan film ini pada tanggal 30 Maret 1950, oleh karena itu di Indonesia setiap tanggal tersebut dikenal dengan Hari Film Nasional.

Mengenal Film Berwarna Pertama di Indonesia

Sembilan : Film Indonesia berwarna pertama - Star Jogja FM

Judul dari film ini adalah Sembilan . Film yang disutradarai oleh Wim Umboh dan dibintangi oleh Gaby Mambo ini menjadi film bersejarah dalam kancah perfilman Indonesia. Karena pada tahun 1967 untuk pertama kalinya di Indonesia di produksi film yang berwarna. Film yang menceritakan tentang sebuah pantai yang dikuasai oleh perompak. Kepala suku di sana tidak bisa berbuat apa apa,  hingga datang sembilan pendekar dari berbagai penjuru Nusantara. Mereka berusaha untuk membebaskan suku itu dari para perompak. Berbagai macam tujuan mereka datang ke wilayah tersebut, karena wilayah tersebut terkenal dengan adanya Intan.

Filmnya Anak-Anak Sekolah Tahun 90’an

Film yang rutin diputar oleh stasiun TVRI ini dikenal dengan film propaganda judulnya sendiri ada G 30 S/PKI. Karena di film ini menceritakan tentang hiruk pikuk Pemerintahan Order Baru. Film ini disutradarai oleh Arifin C Noer,  banyak spekulasi dengan ditayangkan film ini. Film ini menceritakan tentang sebuah insiden, rencana kudeta dan penculikan seorang jenderal. Pada tahun 90’an anak anak wajib menonton film ini. Film ini dibintangi oleh Amoroso Katamsi, Umar Kayam dan Syubah Asa. Terlepas dari semuanya,  film ini berhasil meraih Tujuh nominasi dalam Festival Film Indonesia tahun 1984 dan merupakan skenario terbaik dalam penghargaan Citra.

Film Berjudul Ibunda Peraih Piala FFI Terbanyak

Film  ini adalah film drama Indonesia yang dirilis pada tahun 1986. Film “Ibunda” ini memegang rekor untuk penghargaan terbanyak di ajang Festival Film Indonesia. Film ini menceritakan tentang sebuah kisah di kota Jakarta, seorang janda yang menghadapi berbagai masalah yang terpisah dengan keluarganya. Film ini disutradarai oleh Teguh karya dan dibintangi oleh Tuti Indra Malaon. Adapun penghargaan yang telah diraih oleh film ini adalah :

· Film Terbaik

· Sutradara Terbaik : Teguh Karya

· Pemeran Wanita Terbaik yang Unggul adalah : Tuti Indra Malaon

· Pemeran Pendukung Wanita yang Dinilai Terbaik adalah : Niniek L. Karim

· Cerita Asli Terbaik : Teguh karya

· Tata Sinematografi Terbaik : George Kamarullah

· Tata Artistik Terbaik : Adji Mamat Borneo

· Tata Suara Terbaik : Zakaria Rasyid

· Tata Musik Terbaik : Idris Sardi

Ada Apa dengan Film ini ?

Film yang satu ini merupakan film yang sangat banyak menuai kritikan serta memicu pemulangan piala citra. Film yang disutradarai oleh Nayato Flo Nuala ini menceritakan tentang usaha balas dendam seorang pelajar yang mengalami bullying kepada pelaku bullying. Film Ekskul ini telah meraih beberapa penghargaan Festival Film Indonesia namun hal ini dibatalkan karena banyaknya kontroversi sejak dirilisnya film tersebut. Film ini dianggap telah menjiplak musik latar belakang Gladiator yang dibintangi oleh Russel Crowe dan Munich. Karena menyinggung tentang hak cipta musik, film ini terpaksa mengembalikan piala yang telah mereka raih, yang diantaranya sebagai berikut :

· Film Terbaik ( Dibatalkan )

· Sutradara Terbaik : Nayato Flo Nuala ( Dibatalkan )

· Penyuntingan Terbaik : Azis Natandra

· Tata Suara Terbaik : Badiel Revaldo

The Raid, Film Terlaris di Luar Negeri

The Raid

Film aksi seni bela diri dari Indonesia yang disutradarai oleh Gareth Evans dan dibintangi oleh Iko Uwais. Film yang dipublikasi pada Festival Film Internasional Toronto 2011 sebagai Film Aksi Terbaik. Film ini terinspirasi dari film “Peace Hotel” ( 1995 ) yang dimana sebagian besar ide cerita keluar dari Gareth Evans. Evan sendiri mengatakan bahwa dia sejak kecil sangat terobsesi dengan film tersebut. Banyak penghargaan yang telah diraih oleh film “The Raid” , penghargaan dari dalam negeri maupun penghargaan Internasional.

Avenger kalah sama Rama Superman Indonesia

Kalian pasti tidak pernah menyangka bahwa Indonesia juga memiliki film yang berbaur Superhero. Seperti yang kita ketahui film yang berbaur superhero hanya bisa kita temukan di perfilman Internasional, dan Indonesia terkenal akan cerita legendanya. Namun kali ini kita akan membahas tentang superheronya Indonesia yaitu Rama Superman Indonesia. Film ini menceritakan tentang seorang remaja penjual koran yang mendapatkan kekuatan supernya, seperti cerita superhero kebanyakan, namun sayangnya film ini tidak dapat ditayangkan secara Internasional, karena pelanggaran hak cipta. Film ini dirilis pada tahun 1974 yang dibintangi oleh August Melasz (Rama), Yenny Rachman (Lia) dan Boy Syahlani (Boy). Tapi Indonesia tidak menyerah dengan satu film tersebut, selanjutnya Indonesia mencoba membuat film dengan superhero yang Khas dengan Indonesia, yaitu Garuda Superhero. Yang dimana kita semua tahu bahwa Garuda adalah lambang dari Kebangsaan Indonesia, dan saya rasa ini akan menjadi film yang menarik.

Perkembangan Teknologi dalam Pembuatan Film Dunia

Yang namanya Industri perfilman, sudah pasti membutuhkan adanya teknologi dalam membuat film tersebut supaya jadi. Film ini sendiri merupakan produk teknologi dan kalian juga harus mengetahui hal tersebut. Semenjak tahun 1900 an, dunia film ini sendiri sudah mulai diproduksi dan juga terus berkembang sampai dengan sekarang ini. Untuk kualitas dari beberapa ide-ide cerita selalu saja muncul yang baru. Hal ini dikarenakan teknologi yang digunakan juga semakin canggih dan semakin berkembang dengan luas. 

Selain itu, dibantu juga dengan teknologi komputer berupa CGI atau Computer Generated imagery. Mengapa banyak yang menggunakan teknologi CGI ini ? hal ini dikarenakan teknologi dan Visual Effectnya bagus sekali. Kalian bisa lihat film dengan judul The Avengers, Star Wars, lalu Blade Runner 2049, Avatar dan masih banyak lagi yang lainnya memakai teknologi CGI ini. Beberapa studio Animasi layaknya Disney Pixar, Warner Bros dan juga Dreamworks yang akan membuat berbagai film animasinya menggunakan CGI. sehingga film animasi ini yang dihasilkan tidak hanya 2D namun juga 3D. 

Berikut ini bisa lihat langsung beberapa perkembangan teknologi yang ada di dunia, dan bisa kalian pahami mulai detik ini !

Perkenalan Teknologi CGI 

Jadi, Computer Generated Imagery – menjadi teknik dari pencitraan 3D yang sudah dilakukan langsung oleh sebuah komputer pada media tertentu. CGI ini sudah langsung masuk dalam sebuah golongan spesial efek yang biasa saja digunakan dalam pembuatan film, acara televisi, iklan hingga game. Untuk CGI ini mirip dengan teknik animasi tradisional atau gerakan yang dibuat langsung melalui rangkaian gambar-gambar yang sudah saling bertautan dan umumnya menjadi sebuah gambar bergerak yang tercipta dalam ritme 24fps yang artinya : dalam 1 detik saja sudah terdapat 24 gambar yang saling saja bertumpuk dalam menciptakan satu harmoni yang bergerak. 

Teknologi yang  Mengubah Jalannya Industri Perfilman 

Kamera  Film – teknologi ini sudah ditemukan lama sekali, ada yang mengatakan juga tahun 1895 sudah hadir. Dikarenakan gambarnya sangat bagus dan yang dikeluarkan sangat nyata pada akhirnya banyak orang-orang yang berlari untuk menghindari layar yang menunjukkan kereta berjalan langsung ke arah mereka. 

Suara yang Sinkronis – dimana film bisu sudah memasuki masa keemasan sebelum benar-benar ditemukannya teknologi ini. Dan betul saja, Live Music langsung diadakan sebagai salah satu latar musik untuk filmnya tersebut. 

Warna Gambar – dulunya film berwarna Monokrom atau Hitam Putih. Dimana kehadiran teknologi yang menampilkan warna ini bisa membuat film jauh jadi lebih nyata. 

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI PERFILMAN. I.SEJARAH FILEM | by Bayugatra | Medium

Green Screen – teknologi ini mulai digunakan sejak tahun 1940 an yang mana bisa membuat aktor berada dimana saja. 

Rig Kamera – alat ini memang dikhususkan untuk membantu adanya perkembangan teknik pada pengambilan gambar. Dengan gambar yang hasilnya mulus, berkat bantuan alat yang satu ini. 

Lensa Digital – untuk saat ini lensa digital sudah marak berkembang dan dijual belikan sangat mudah untuk bisa kalian cari. Dulu memang sangat amat susah untuk bisa mendapatkan adanya frame terbaik yakni gambar 24 Frame/Detik dimana sekarang ini sangat amat mudah untuk didapat. 

Gambar Berasal dari Komputer – adanya CGI yang sudah menunjukkan adanya kemunculan era Modern dari Industri perfilman. 

Perkembangan Teknologi CGI dalam Pemakaiannya 

Keberhasilan film-film ini alhasil mampu membuat CGI sendiri menjadi salah satu unsur utama yang mana mampu digunakan dalam sebuah proses pembuatan filmnya. Namun di dalam prosesnya memang sangat membutuhkan waktu yang tidak sebentar lho! Selain itu biaya yang dikeluarkan juga mahal dan banyak sekali properti yang menjadikannya terlihat begitu nyata. Peralatan seperti tali sling, lalu layar hijau, set studio yang besar mampu memuat beberapa properti lainnya. 

10 Adegan film Hollywood sebelum & sesudah efek CGI, bik

Hal ini dikutip dari situs tirto.id yang direferensikan oleh idseducation, dibutuhkan 400 pekerja Visual Effect yang bekerja sama langsung selama 4 tahun hanya untuk membawa film 2D ke Bioskop. Sedangkan untuk CGI ini hanya saja membutuhkan setengah dari angka tersebut dan hanya saja membutuhkan adanya waktu selama 3 tahun di dalam membuat film yang memanfaatkan adanya komputer. Fakta lainnya adalah Film pirates of the Caribbean at World’s End sudah mampu menghabiskan uang dengan nilai $1 Juta/ menit hanya untuk membiayai efek visual dari komputernya. 

Cara Penggunaan dari Efek CGI 

Jadi untuk efek CGI ini banyak sekali mengundang decak kagum bagi para penonton yang dibuat langsung untuk melalui tahap sangat amat kompleks dan juga tidak semudah menonton dari layar lebar di Bioskop. Dan untuk bisa membuat adanya efek dari CGI ini pada suatu vidio, memiliki banyak sekali tahapan yang memang harus bisa dilalui supaya sesuai sekali dengan hasil yang benar-benar diinginkannya tersebut. 

Proses dari pembuatan CGI ini menjadi salah satu hal menarik pada keseluruhan produksi dari sebuah film yang sangat sayang sekali untuk bisa dilewatkan. Disini kalian juga bisa untuk melihat adanya rahasia di balik layar film favorit kalian dengan menyaksikan bagaimana proses dari pembuatan karakter, lalu background lingkungan, efek khusus dan berbagai elemen pendukung film lainnya. 

11+ Rahasia di Balik "Keajaiban" CGI. Tanpanya, Pasti Kita Nggak Bakal Mau  Nonton Filmnya, Kan?

Nah, kunci utama dari penggunaan Teknologi CGI sendiri bisa menghasilkan visual ciamik pada Integrasi gambar komputer dengan lokasi dan juga berupa objek dari dunia nyata. Pencampuran kedua elemen inilah yang kemudian bisa menghasilkan gambar estetis yang bisa kalian lihat di layar kaca. Produksi CGI sendiri dilakukan dengan melalui beberapa tahapan yang diawali dengan membuat banyak sekali bentuk-bentuk grafis dasar komputer yang nantinya akan langsung dipakai sebagai sebuah bahan visual yang utama. Setelah gambar-gambar yang dibuat ini akan diberikan efek khusus supaya terlihat jauh lebih nyata. 

Elemen pada gambar yakni : Lighting, Tekstur, dan juga warna yang dikerjakan menjadi satu persatu dalam menambahkan detail yang diperlukan. Detail inilah yang membuat tampilan CGI ini terlihat jauh lebih realistis dan tidak akan tampak seperti halnya harta karun. Yang membuat ini jauh lebih keren lagi karena, semuanya memang dikerjakan secara Frame by frame lho. 

Visual yang ada sangat Realistis dan Fantastis 

Jadi untuk proses pembuatan CGI ini sendiri bisa bervariasi di antara suatu film dan juga lainnya, tergantung pada sebuah kompleksitas dan juga jenis efek yang diinginkan. Semakin detail dan juga sangat amat nyata perihal visual yang ingin langsung ditampilkan maka nantinya akan langsung rumit pula proses pembuatannya tersebut. 

Dalam pembuatannya sendiri benar-benar menggunakan CGI dan tim produksi ini bisanya memiliki departemen yang khusus dalam menangani efek visual dari CGI. departemen ini langsung saja terdiri dari para desainer dan juga animator dengan andal dan masing-masing mengerjakan dari bagian spesifik pada special effect film. 

Tak sampai disitu saja, ada juga orang-orang yang langsung saja bekerja di departemen ini biasanya dibagi-bagi lagi menjadi tim-tim kecil dengan fungsi Jurassic World dan ada juga tim yang secara Khusus menangani sebuah proses gerak dinosaurus dan bisa menampilkan secara alami kulit yang ada di dalamnya. 

Itulah beberapa perkembangan dari pembuatan teknologi dalam dunia perfilman. Semoga bisa menjadi informasi terbaik untuk kalian semua!

Siklus Perkembangan Film Nasional Indonesia

Perkembangan dunia perfilman yang ada di luar negeri atau di Indonesia makin lama makin berkembang saja bukan ? hal ini memang benar adanya dari sebuah siklus perfilman itu sendiri dari masa ke masanya. Untuk dunia film Indonesia sendiri sudah hadir sejak mulai diperkenalkan tanggal 5 Desember tahun 1900 di kawasan Batavia – Jakarta. Ketika masanya, film ini disebut dengan Gambar Idoep dan digelar untuk pertama kali di kawasan Tanah Abang. Filmnya sendiri bukan seperti saat ini, masih berbentuk dokumenter yang menggambarkan perjalanannya Ratu serta Raja Belanda yang ada di Den Haag. untuk pertunjukan pertama dinilai memang kurang sukses, dikarenakan untuk harga karcisnya terlalu mahal sekali. Sehingga diputuskannya sejak tanggal 1 Januari tahun 1901 harga karcis ini dikurangi atau mendapatkan potongan sebesar 75% hanya untuk merangsang adanya minat dari para penontonnya. 

Jika diawal tadi adalah film mengenai Dokumenter Raja dan Ratu di Belanda, maka pada film cerita untuk pertama kalinya dikenalkan di Indonesia sejak tahun 1905 nyatanya langsung diImpor dari negara Amerika. Film Impor ini kemudian berubah lagi ke dalam bahasa Melayu. Untuk filmnya sendiri sudah dikatakan laku di negara Indonesia. Jumlah dari para penontonnya juga meningkat kok. 

Kedatangan Film-Film Pertama di Indonesia 

Tepat tahun 1926, Indonesia juga sudah berani membuat film lokal pertama dengan judul Loetoeng Kasaroeng yang diproduksi langsung oleh NV Jaya Company. Lalu disusul kembali dengan film Eulis Atjih yang mana diproduksi langsung oleh perusahaan yang sama juga. Setelah rilis 2 film tersebut, mulailah muncul beberapa perusahaan-perusahaan film lainnya yakni : Halimun Film Bandung yang sukses membuat Lily Van Java, Central Java Film Coy yang ada di Semarang dengan memproduksi langsung Setangan Berlumur Darah. 

Industri film lokal ini sendiri baru saja membuat film yang bersuara di tahun 1931 silam. Dan film ini diproduksi langsung oleh Tans Film Company yang bekerja sama langsung dengan Krueger Film Bedrijf di kawasan Bandung dengan judul Atma de Vischer. Kurang lebih dalam kurun waktu tahun 1926 hingga 1931 ini , sudah ada 21 judul film yang bisu ( mode nonsuara ) dan juga ada yang murni bersuara langsung. Lantas, jumlah dari Bioskop bisa sebegitu meningkatnya dengan sangat pesat. Film Rueve di tahun 19936 sudah mencatat kurang lebihnya sebanyak 227 Bioskop terbangun. 

Untuk bisa lebih jauh mempopulerkan film Indonesia ini, Djamaludin Malik langsung saja mendorong adanya sebuah Festival Film Indonesia atau FFI pada tanggal 30 Maret sampai dengan 5 April tahun 1955 yang maan setelah sebelumnya telah menyambung pada 30 Agustus tahun 1954 terbentuknya PFFI atau Persatuan Perusahaan Film Indonesia. Untuk film pada jam tayang dimalam hari tentu saja karya dari Usmar Ismail menjadi film tampil terbaik di dalam festival tersebut. Selain itu, film dari karya Pak Umar sendiri menjadi film terbaik di dalam mewakili negara Indonesia untuk Festival Film Asia II yang diadakan di negara Singapura. Film  ini sendiri dianggap langsung menjadi karya terbaik yang pernah dimiliki oleh Usmar Ismail. Isi filmnya juga bagus yang mengutarakan secara langsung mengenai Kritik Sosial yang sangat tajam serta bisa mengenai para bekas pejuang setelah mencapai kemerdekaan. 

Kebangkitan Dunia Film di  Indonesia 

Tepat di tahun 1970 an silam, bisa dikatakan menjadi era bangkitnya perfilman Indonesia. Dengan acara film berjudul Papa dan Mama mungkin bisa membangkitkan memori orang tua kalian jika memang sebelumnya sudah pernah menonton film yang satu ini. Mengenai filmnya sendiri hampir sama dengan film-film lama : Ali Topan Anak Jalanan, Romi dan Yuli, lalu masih banyak lagi jenis film lainnya. Walau demikian, jumlah dari film  yang sudah di produksi kala itu masih berjumlah 640 Judul dan semuanya memang berkualitas. Serta mengenai dialog yang ada masih sangat amat kaku sekali dengan menggunakan kata ganti baku Aku dan Kau. 

Ketika sudah memasuki era tahun 1980 an, produksi dari dunia perfilman ini sendiri sudah mencapai judul sebanyak 721 judul film lokal. Temanya sendiri sangat amat bervariasi dan saat itu era ini menjadi eranya kehadiran sang legendaris Komedi yakni Warkop dan juga Raja Dangdut Rhoma Irama dengan film-film yang ada mereka ini selalu saja laris di pasaran bagaikan kacang rebus yang dulu terjual laris untuk teman menonton. Salah satu yang bisa menjadi momentum bersejarah tahun 1980 an silam adalah ketika munculnya film Pengkhianatan G-30S/PKI yang penontonnya berjumlah 699.282 ( walau terhitung sebagiannya si masih ada campur tangan dari pemerintahan pada masa Orde Baru ). Dan diakhir tahun 1980 an, nama film Lupus dengan Catatan Si Boy menjadi salah satu ikon tersendiri. Dan menjelang di tahun 1990 an, film-film dengan karya Cinta Dalam Sepotong Roti ini nyatanya berhasil untuk meraih berbagai macam penghargaan di Festival film Internasional tersebut. 

Keterpurukan Dunia Perfilman Indonesia 

Walau ada beberapa film yang menjadi Ikon ternama dan laris, tetap saja tahun 1990 an ini menjadi kiamatnya bagi dunia perfilman. Hal ini dikarenakan adanya sinetron-sinetron di Televisi bermunculan di Tv Swasta. Sudah pasti dong, semua aktris dan aktor yang biasanya ada di panggung lebih memilih untuk berada langsung di layar kaca. Selain itu, tema yang diangkat juga selalu saja menjadi sebuah bumerang bagi dunia perfilman tanah air dengan berbau Horor Sex. Bagaimana tidak ? judulnya sendiri sangat senonoh seperti : Janda Kembang, Noktah Merah Perkawinan, Gairah Terlarang dan masih banyak lagi yang lainnya. Walau sejumlah aktor dari dunia Hollywood kelas B saja ( Frank Zagarino, Chintya Rothrock, David Bradley ) yang ikut serta untuk memeriahkan perfilman Indonesia, tetap saja konsep dari penontonnya tidak akan pernah berubah. 

Munculnya Dunia Baru Perfilman Indonesia 

Kemunculan ini ditandai sejak tahun 2000 an sempat muncul salah satu film terbaik yakni Film Anak yang sudah menjadi legendaris yakni “PETUALANGAN SHERINA “ yang dibintangi langsung oleh aktor tampan Derby Romeo dan tentunya Sherina Munaf. Lalu mulai muncul di tahun 20002 dengan kisah percintaan yang dramatis serta romantis dari film “ AADC / ADA APA DENGAN CINTA “ , lalu horor seperti Jelangkung dan masih banyak lagi yang lainnya. Genre dan tema dari film makin kesini makin banyak nih dan penonton sudah mulai tertarik lagi untuk menikmati film tersebut seperti : Heart, Nagabonar Jadi Dua, Ayat-Ayat Cinta menjadi contoh-contoh film yang dulunya mendapatkan penonton sangat tinggi di Indonesia dan mampu bersaing baik serta sehat dengan dunia perfilman Hollywood. \

Walau begitu, masih saja orang Anoname yang mengambil keuntungan dengan membuat genre Film Horor Sex. dan tepat di tahun 2011 silam sudah terjadi sebuah peristiwa yang justru sudah menjadi Bumerang bagi dunia perfilman tanah air yakni Kisruh Film Impor apalagi di tahun tersebut menjadi film Horor Sex yakni Goyang Jupe Depe dan lainnya sudah banyak yang menjamur. Penonton sendiri bukan tertarik malah menjadi risih. Mereka semua selaku penonton menginginkan Hollywood kembali saja seperti dahulu walau diantaranya film genre Horor Sex dari Hanung Bramantyo dengan judul Tanda Tanya yang berkualitas masih saja sedikit kalah menarik di mata penonton zaman baheula. 

Yang bisa saya katakan saat ini, sifat orang Indonesia ini sedikit jelek. Selera genrenya masih musiman alias ketika sedang ramai atau banyak-banyaknya film Horor maka, akan mengambil tema seperti itu juga dan begitupun dengan tema-tema remaja/ anak sekolah. Hal ini meang tidak buruk, cuma hanya perlu perkembangan lagi. Bukan berarti ketika sedang ramai dengan film genre horor dan kalian membuat genre action atau komedi romantis masih bisa juga mendulang daya tarik para penonton lainnya. Intinya, tetap support selalu perfilman lokal Indonesia jika memang kalian masih sayang dengan Tanah Air.

Film Indonesia Pertama Digarap Sineas Dunia

Seperti yang kalian ketahui, film Indonesia dalam beberapa tahun ke belakang ini sedang mengalami peningkatan, baik itu dari segi kualitas maupun minat penonton. Pada tahun 2018 saja, ada 14 film lokal yang berhasil meraih lebih dari satu juta penonton dalam waktu singkat. Namun, apakah kalian tahu tentang sejarah dari dunia perfilman yang ada di Tanah Air ? Industri perfilman Indonesia mempunyai sebuah perjalanan dan sejarah yang cukup panjang. Bahkan di era 80an film-film produksi lokal seperti Catatan Si Boy (1987) dan Blok M (1990) menjadi raja di bioskop Indonesia.

Film Indonesia Pertama Digarap Sineas Dunia

Bahkan film-film tersebut mengalahkan film impor. Akan tetapi, jauh sebelum tahun tersebut ternyata sudah ada sejumlah film yang juga dinobatkan sebagai sebuah film pertama yang diproduksi di Indonesia. Penasaran kah film apa saja itu ? Dalam artikel ini kami sudah merangkum beberapa film pertama yang diproduksi di Indonesia yang tentunya di garap oleh sineas Luar negri. Namun film-film tersebut sangat sukses di Indonesia. Pastinya daftar film tersebut nantinya akan menambah pengetahuan anda tentang dunia perfilman Indonesia.

Loetoeng Kasaroeng (1926)

Loetoeng Kasaroeng adalah sebuah film yang disutradarai oleh seniman Belanda yaitu L. Heuveldorp, film Loetoeng Kasaroeng adalah sebuah film yang merupakan film pertama yang diproduksi di Hindia Belanda, bahkan jauh sebelum tercipta nama Indonesia. Film yang diproduksi oleh N.V. Java Film ini mengambil sebuah kisah dari cerita rakyat yaitu Si Lutung yang Tersesat yang kemudian sangat populer di kalangan masyarakat Sunda pada saat itu. Meskipun film yang memiliki sebuah format film bisu tersebut diproduksi oleh orang Belanda, tapi aktor dan aktrisnya sebagian besar berasal dari pribumi.

Eulis Atjih (1927)

Film selanjutnya adalah Eulis Atjih, merupakan Film yang berkisah tentang ketangguhan seorang wanita setelah dirinya jatuh miskin akibat suaminya yang hobi berfoya-foya. Film Eulis Atjih ini hasil dari debut sutradara G. Kruger. Film bisu yang merupakan produksi Java Film ini dinilai telah meraih sejumlah kesuksesan komersial di Indonesia pada saat itu. Meskipun film ini tidak bisa menembus pasar internasional. Pada saat pemutarannya, film yang juga diangkat dari novel karangan Joehana ini diiringi oleh sebuah kelompok musik keroncong yang dipimpin oleh Cajon, seorang musisi terkenal pada era tersebut.

Lily Van Java (1928)

Lily Van Java merupakan sebuah film Indonesia pertama yang sebagian besar proses produksinya sendiri dipegang oleh etnis Tionghoa pada saat itu. Mulai dari sutradara bahkan hingga pemainnya. Namun, sebelumnya film yang berkisah tentang sebuah pernikahan terpaksa seorang gadis tersebut disutradarai oleh para orang Amerika Serikat yang bernama Len H. Roos. Lily Van Java merupakan sebuah film yang digarap oleh Nelson Wong merupakan sebuah film yang sangat populer di kalangan masyarakat Indonesia pada saat itu. Bahkan film Lily Van Java sampai menjadi film yang diputar berulang kali hingga filmnya rusak.

Resia Boroboedoer (1928)

Setelah film Lily Van Java sukses, film yang dibintangi oleh aktris bernama Olive Young ini juga ditargetkan untuk para penonton dari etnis Tionghoa. Film ini adalah film yang berkisah tentang gadis yang bernama Young Pei Fen yang mencari sebuah rahasia di Candi Borobudur. Film ini juga dinobatkan sebagai film dengan biaya produksi termahal pada saat itu. Sayangnya, hal tersebut juga lah yang membuat Nancing Film Co selaku rumah produksinya kemudian bangkrut.

Setangan Berloemoer Darah (1928)

Diadaptasi dari sebuah novel yang merupakan garapan Tjoe Hong Bok yang di rilis pada tahun 1927. Film Setangan Berloemoer Darah berkisah tentang seorang pemuda yang sangat ingin membalaskan dendamnya akibat sang ayah telah dibunuh. Film ini adalah sebuah film yang disutradarai dan diproduksi oleh Tan Boen San, seorang etnis Tionghoa yang merupakan jurnalis di media Soeara yang berada di Semarang. Lagi-lagi, film yang satu ini ditujukan untuk para etnis Tionghoa yang ada di Indonesia pada saat itu.

Njai Dasima (1929)

Cerita dari film yang digarap oleh Lie Tek Swie ini adalah cerita yang diangkat dari novel karangan G. Prancis pada terbitan 1896. Njai Dasima adalah sebuah film yang mengisahkan tentang seorang nyai yang merupakan sebutan untuk wanita simpanan pada masa penjajahan saat itu. Film produksi Tan’s Film ini juga menuai sejumlah respon yang cukup positif, baik dari penonton ataupun juga dari para kritikus film di luar negri. Sampai-sampai pada 1930 Njai Dasima kemudian dibuatkan sekuelnya lagi dengan judul Nancy Bikin Pembalesan.

Rampok Preanger (1929)

Setelah sukses dengan film Lily Van Java, Nelson Wong yang juga kembali menggarap sebuah film di Tanah Air. Kali ini, film yang digarapnya mengambil genre aksi dibintangi oleh penyanyi keroncong asal Bandung yang bernama Ining Resmini. Namun, sayangnya tidak terlalu banyak yang diketahui soal film ini. Tapi kabarnya adalah film ini adalh sebuah film yang diadaptasi dari film Amerika Serikat.

Si Tjonat (1929)

Film yang satu ini mengambil sebuah kisah tentang seorang bandit yang berasal dari Sunda yang kabur ke Batavia. Bandit tersebut kabur setelah membunuh temannya sendiri. Sesampainya ia di kota yang kini bernama Jakarta, bandit tersebut dijuluki dengan nama si Tjonat ini pun kemudian jatut cinta dengan gadis keturunan Tionghoa bernama Lie Gouw Nio. Film yang disutradarai oleh Nelson Wong dan juga diadaptasi dari novel karangan F.D.J. Pangemanan, yang awalnya dimaksudkan di buat untuk menjadi sebuah serial.

Boenga Roos dari Tjikembang (1931)

Boenga Roos dari Tjikembang menjadi sebuah film bersuara pertama yang telah berhasil diproduksi di Indonesia. Diangkat dari novel Melayu yang merupakan terbitan dari 1927. Film ini adalah sebuah film yang merupakan film yang berkisah tentang kisah cinta sepasang kekasih dari dua etnis yang berbeda, yaitu etnis Tionghoa dan Pribumi. Film yang digarap oleh sutradara The Teng Chun ini bahkan pernah dipentaskan dalam sebuah acara Union Dalia Opera dan merupakan film yang telah diakui sebagai karya Indo-Tionghoa.

Darah dan Doa (1950)

Berbeda dengan film-film sebelumnya, Darah dan Doa merupakan sebuah film Indonesia pertama yang telah berhasil diproduksi sepenuhnya oleh keturunan Pribumi di Indonesia. Film yang digarap oleh Usmar Ismail adalah sebuah film yang berkisah tentang percintaan antara pejuang Indonesia dengan seorang wanita Belanda yang menjadi tahanan. Film yang satu ini juga bisa dibilang menjadi titik paling bersejarah bagi dunia perfilman Indonesia. Sebab, hari syuting pertama dari film Darah dan Doa dinobatkan sebagai Hari Film Nasional yang jatuh setiap tanggal 30 Maret.

Nah, itulah sejumlah film Indonesia yang digarap oleh sinea luar negri. Sayang, menurut antropologi yang berasal dari Amerika Serikat, sebagian besar film tersebut sudah hilang dan tidak dapat di nikmati. Perkembangan perfilman Indonesia yang sangat panjang ini terus berkembang seiring dengan berjalannya waktu, sekarang ini Indonesia menghasilkan banyak film bagus bahkan diterima oleh dunia. Film apakah yang ingin kalian tonton, jika ternyata ada sutradara yang mengadaptasinya ?

Pertama dalam Sejarah Film dan Bioskop

Film Indonesia yang pertama kali yaitu bertema homoseksualitas dengan judul Istana Kecantikan (1988) merupakan salah satu film Indonesia pertama yang mengangkat isu homoseksualitas dalam bingkai drama keluarga. Film ini adalah sebuah film yang disutradarai oleh Wahyu Sihombing. Film ini bercerita tentang Nico (Mathias Muchus), yang merupakan seorang seorang gay, yang dipaksa berpura-pura menikahi Siska diperankan oleh (Nurul Arifin) untuk memenuhi kehendak orang tua mereka. Nico akhirnya menyeleweng dengan seorang pria dan kemudian membawa cerita ke ranah hubungan homoseksual yang lebih kompleks. Dari semua film yang bertema kan homoseksualitas yang diproduksi pada masa Orde Baru. Film Istana Kecantikan adalah sebuah film bertemakan seksual yang paling diingat. Film ini juga menjadi film yang didiskusikan oleh banyak orang karena isu yang khas dan mendobrak.

Pertama dalam Sejarah Film dan Bioskop

Hal ini juga terjadi karena mulai muncul sebuah pandangan yang lebih toleran baik dari penonton maupun juga pekerja film. Juga pengetahuan akan identitas seksual dalam sinema Barat, Asia, Amerika Latin. Hal tersebut juga yang diungkapkan oleh Ben Murtagh dalam Genders and Sexualities yang ada di Indonesian Cinema. Istana Kecantikan mendapatkan enam nominasi di dalam Festival film Indonesia 1998 dan memenangi penghargaan sebagai Aktor Terbaik untuk Mathias Muchus.

Film terbaik pertama dalam ajang Oscar

Academy Award atau penghargaan Oscar merupakan sebuah penghargaan bergengsi yang ada dalam industri film Amerika Serikat. Oscar adalah ajang yang pertama kali diselenggarakan yaitu pada tanggal 16 Mei 1929. Seremonia dilangsungkan di Hotel Roosevelt, Los Angeles, pada saat itu berhasil dihadiri oleh 270 peserta dari industri perfilman dan tidak disiarkan dalam radio maupun televisi.

Pemenang perdana untuk film terbaik adalah film bisu yang berjudul Wings. Film ini adalah sebuah film yang disutradarai oleh William A. Wellman adalah sebuah film yang diproduksi Paramount Pictures. Film ini berdurasi 139 menit, Wings adalah sebuah film yang mengisahkan pilot-pilot pesawat tempur yang ada di dalam Perang Dunia I dengan menyelipkan bumbu percintaan di dalam film tersebut. Meski film bisu, Wings menjadi sebuah film yang dibuat dengan biaya produksi termahal pada zamannya namun film ini sukses mendapatkan banyak penghargaan film bergengsi.

Perempuan Indonesia pertama tampil di majalah Playboy

Ratna Assan Lahir 16 Desember 1945 di Torrance, California, dari pasangan berdarah Indonesia yaitu Ali Hasan dan Soetidjah. Ibunya Soetidjah lebih dikenal sebagai Dewi Dja, merupakan seorang penari yang tampil dalam film-film produksi Hollywood ternama.

Nama Ratna Assan kemudian melejit ketika membintangi film Papillon bersama dengan Steve McQueen dan Dustin Hoffman yaitu pada tahun 1973. Papillon kemudian menjadi film termahal dengan bayaran 12 juta dolar yang diproduksi pada masanya. Ratna di film tersebut berperan sebagai Zoraima, merupakan seorang gadis India yang menolong seorang pelarian kriminal Prancis bernama Henri Charriere “Papillon” (Steve McQueen).

Penampilannya di dalam film tersebut yang sangat memukau serta didukung oleh wajahnya yang sangat eksotis menarik Playboy untuk menampilkan wajah Ratna dalam rubrik pictorial setahun kemudian. “Ratna Assan si ‘butterfly girl’ bukan sebuah nama yang akrab, tapi penampilannya bersama dengan Steve McQueen di Papillon menjadikan wajah dan figurnya begitu menjadi sangat familiar, tulis majalah Playboy edisi Februari 1974.

Film India pertama yang sukses internasional

Film Awaara, adalah film yang rilis tahun 1951, dengan Raj Kapoor sebagai produser, sutradara dan pemeran utamanya. Komposisi musik digarap oleh tim Shankar Jaikishan. Soundtrack-nya yang dianggap inovatif dan juga penggambaran lagunya yang sangat luar biasa, sehingga disebut-sebut sebagai sebuah mahakarya di era keemasan dari film India. Selain dalam negeri, film ini ternyata juga sukses di Timur tengah, Afrika bekas Uni Soviet, dan di kawasan Asia Timur. Bahkan film ini juga menjadi salah satu film box office di Afro-Asia dan juga Timur Tengah. Para pemain dan lagu-lagunya kemudian menjadi sangat populer.

Menurut Sangita Gopal dan Sujata Moorti dalam film “Travels of Hindi Song and Dance” dimana pengantar di dalam bukunya yaitu Global Bollywood, Awaara memang bukan satu satunya film india yang beredar di luar negeri tapi ia adalah yang pertama mendapatkan sebuah popularitas lewat lagu-lagunya. Sukses Awaara kemudian diikuti oleh film lainya seperti Aan (1952), Mother India (1957), dan beberapa film yang belakangan kemudian tayang.

Di manakah bioskop pertama

Bioskop berasal dari bahasa Yunani, yang artinya bios berarti hidup dan skopeein yang berarti melihat. Kehadiran sebuah bioskop tentunya tidak bisa dilepaskan dari Athanasius Kircher, seorang Italia. Pada tahun 1640, dirinya memulai sebuah langkah manipulasi gambar sehingga tampak seperti bergerak. Temuannya tersebut disebut juga sebagai magia catotrica atau sebuah lentera ajaib. Setelah temuan tersebut, Simon Ritter von Stampfer kemudian mengkreasi stroboscope yang merupakan sebuah gambar tembus pandang yang bisa dibersihkan oleh cahaya yaitu pada 1853.

Perkembangan tersebut kemudian menjadi lebih cepat setelah itu. Puncaknya adalah terjadi pada sebuah pertunjukan yang ada di Paris, pada tanggal 28 Desember 1895. Adalah Lumiere bersaudara yang berhasil menyediakan gedung tertutup untuk melihat sebuah gambar bergerak. Pertunjukan tersebut terjadi di sebuah kedai kopi. Orang harus membayar jika ingin melihat pertunjukan tersebut. Sebelumnya, pertunjukan tersebut juga telah diputar di Atlanta, Amerika Serikat, yaitu pada 1895 dan di Berlin pada tahun 1 November 1895. Namun, orang pada saat itu tidak perlu membayar untuk melihatnya. Karena itu, pertunjukan yang ada di Paris tetap dianggap sebagai sebuah bioskop pertama di dunia.

Di manakah drive-in-theatre pertama

Drive-in-theatre adalah sebuah konsep dalam menonton bioskop yang berada di luar ruangan. Mirip sebuah layar tancap yang ada di Indonesia, namun dalam bioskop ini penontonnya akan berada di dalam mobil. Jadi, seperti sebuah tempat parkir dengan sebuah fasilitas layar lebar.

Drive-in-theatre diperkenalkan pertama kali di Las Cruces, New Mexico, di Amerika Serikat, yaitu pada tanggal 11 Juni 1914 ketika Airdome Teater telah dibuka. Film pertama yang juga telah diputar adalah For Napoleon and French karya sutradara terkenal Enrico Guzzoni. The Air Dome Theater kemudian ganti nama menjadi Movieland Theater sebelum pada akhirnya tutup pada Oktober 1926.

Masih di Las Cruces, Theatre de Guadalupe, yang dibuka pada April 1915. Namun kemudian ia tutup lebih cepat dari pendahulunya, yakni pada Juli 1916. Drive-in-theatre kemudian mewabah dengan sangat cepat di Amerika Serikat. Konsep drive-in-theatre juga dipatenkan oleh Jr. di Camden, Richard M. Hollingshead, pada tanggal 6 Juli 1933 setelah dirinya membuka drive-in-theatre di depan rumahnya setahun sebelumnya.

Demikian itulah sejarah panjang dari dunia perfilman dan bioskop yang ada di dunia. Bioskop yang dapat kita nikmati saat ini sudah berkembang sangat banyak dari bioskop pada awalnya. Bioskop sekarang juga sudah dilengkapi dengan berbagai fasilitas tambahan untuk menambahkan pelayanan kepada pengunjung. Semoga dengan ini dapat menambah wawasan anda tentang sejarah perfilman di dunia. Terimakasih.